80 Tahun RS Husada
Kamis, 07 Oktober 2004 09:43
GEDUNG BARU RS HUSADA
 

Berikan Kepercayaan kepada Masyarakat
JAKARTA - Di era globalisasi saat ini, rumah sakit (RS) sebagai pelayan kesehatan hendaknya memberikan kepercayaan kepada masyarakat. Pasalnya, keyakinan atau kepercayaan masyarakat merupakan hal utama untuk menghadapi persaingan antar rumah sakit, khususnya untuk menghadapi kecenderungan masyarakat Indonesia berobat ke luar negeri.

Demikian diutarakan Direktur Utama RS Husada dr Yeo Hans Cahyadi kepada Pembaruan saat perayaan hari ulang tahun (HUT) ke-80, RS Husada Selasa (28/12) di Jakarta. Menurut dia, teknologi yang dimiliki rumah sakit di Indonesia tidak kalah dibanding dengan peralatan yang dimiliki RS luar negeri seperti RS di Malaysia. Dia mencontohkan, peralatan medis 16 multiscile CT scan (MSCT) generasi terbaru yang ada di RS Husada. Menurut Cahyadi, salah satu layanan unggulan RS tersebut adalah radiologi. Oleh karena itu selain MSCT, RS tersebut juga dilengkapi resonance imaging (MRSI) 1,5 tesla yang memberi hasil berupa gambar yang terbaik untuk saat ini. Layanan unggulan lain adalah pengobatan diabetes mellitus (DM) yang mencakup edukasi sampai pada pengobatan, dan endoskopi.

Dijelaskan, sesuai dengan visi rumah sakit berupa memberi pelayanan paripurna yang unggul berdasarkan

PAVILIUN MAWAR MELATI
 Pavilin Mawar Melati

cinta kasih, maka fungsi sosial RS ini pun tidak ditinggalkan. Lebih dari 33 % dari tempat tidur yang tersedia ditujukan untuk pasien kelas 3 dengan tarif Rp 50.000/hari (di luar tindakan medis).

Saat ini jumlah tempat tidur di RS tersebut 458. Sedangkan pasien yang berobat tidak hanya masyarakat yang tinggal di kawasan Mangga Besar, tetapi juga dari bagian Selatan kota Jakarta, dan daerah. Di samping menyediakan tempat tidur untuk kelas 3, katanya, RS Husada juga menerima pasien miskin yang menggunakan kartu sehat.

"Awal mulanya rumah sakit ini didirikan untuk masyarakat tidak mampu. Dahulu orang yang mempunyai uang dianjurkan berobat ke dokter partikelir. Tetapi sekarang tidak bisa begitu terus menerus. Sekarang ditetapkan subsidi silang antara kelas tinggi dan kelas bawah," kata Hans.

Kwa Tjoan Sioe

Penggagas berdirinya RS Husada adalah seorang dokter bernama Kwa Tjoan Sioe. Tepatnya pada 28 Desember 1924 didirikan perkumpulan Jang Seng Ie yang mengandung arti tempat untuk memelihara atau merawat kehidupan. Jang Seng Ie menjadi sangat populer karena melayani masyarakat miskin di seputar Jakarta kota. Pada zaman pendudukan Jepang, namanya berubah menjadi Gunseikanbu Tukuketsu Kanrei Yo Sei Sinkai. Kemudian, setelah Indonesia merdeka, nama ini diganti menjadi Rumah Sakit Jang Seng Ie.

Pada 6 September 1945, perkumpulan Jang Seng Ie juga mendirikan Red Cross Jang Seng Ie, dengan programnya membantu tentara Indonesia di garis depan. Kemudian, pada 6 September 1963 nama RS kembali berganti menjadi RS Husada.

Nama inilah yang dipakai sampai sekarang. Berawal dari mengontrak rumah di Prinsenlaan 40-42 (sekarang Jalan Mangga Besar) dengan biaya sewa 150 gulden per bulan. Rumah tersebut menjadi poliklinik dan dibuka untuk umum pada 13 Maret 1925.

Sekalipun didirikan etnis Tionghoa, menurut Hans, RS Husada tidak hanya diperuntukkan warga etnis Tionghoa. Warga lain yang pada masa lalu disebut pribumi atau bumi putera pun datang berobat ke RS tersebut. Tidak hanya pasien, bahkan dokter dan paramedis yang bekerja di RS itu ada juga yang pribumi. Meskipun demikian, dalam catatan RS Husada disebutkan, warga etnis Tionghoa yang miskin dan memerlukan bantuan sangat banyak yang berobat ke RS itu.

Sebagai gambaran, pada tahun 1940, ketika penduduk Jakarta dan sekitarnya berjumlah 650.000 jiwa, jumlah keturunan Tionghoa diperkirakan mencapai 100.000 jiwa. Kini, RS Husada berdiri di atas tanah seluas 6,5 hektare, dengan jumlah dokter 200 orang (dokter tetap 72 orang). Dalam waktu dekat, tambah Hans, pihaknya akan memperluas bangunan di sebelah Timur untuk pelayanan klinik spesialis. (N-4)

Terakhir Diperbaharui ( Kamis, 15 Oktober 2009 09:57 )