| 10 Korban Bom Bali Dirawat RS Husada Jakarta |
| Jumat, 07 Oktober 2005 10:38 | ||
Mereka adalah Lie Lie, Ratimin, Kamal P, Setiawan, Melreynol, Saniar, dan Taniar dirawat di ruang stroke lantai satu, tiga, dan empat. Sementara Kie Sherly, Wiyono A, dan Rita Noordin, dirawat di ruang jantung di lantai dua dan lima RS Husada. Sedangkan tiga korban lainnya, yakni Atan, Diana, dan Febrian hanya menjalani rawat jalan. Selain korban luka, dua jenazah korban bom Bali tersebut masih disemayamkan di rumah duka rumah sakit tersebut, yakni, Megawati Helmi, 20, dan Ely Sunarto. Mereka terkena bom yang meledak pada Sabtu (1/10) di Cafe Menega, Jimbaran, Bali. Menurut Kamal, 30, salah satu korban Bom Bali, masih ada tiga korban tewas lainnya yaitu Eni, Kojar Wati, dan Feni. Jenazah Kojar dan Feni sudah dibawa ke kampung halamannya di Kuningan, Jawa Barat. Sedangkan jenazah Feni oleh pihak keluarganya di semayamkan di rumah duka Jelambar Tambora, Jakarta Barat. "Kami ini berjumlah 26 orang dari satu perusahaan di PT CIF. Berada di Bali sedang liburan selama dua hari, yakni sejak Jumat hingga Sabtu (1/10)," kata Kamal, warga Jl Industri I RT 1/1 No 24, Mangga Besar Raya, Jakarta Pusat. Kamal mengaku saat terjadi ledakan bom, ia bersama teman-temannya satu perusahaan sedang makan malam di pinggir pantai di Cafe Menega, Jimbaran, Bali pada Sabtu (1/10). "Saat itu suasananya hanya diterangi lilin, tiba-tiba terdengar ledakan keras. Kami berhamburan dan sebagian lainnya terkapar. Suasana menjadi kacau dan panik," papar Kamal, yang saat itu (di ruang perawatan RS Husada) ditemani istrinya, Rini, 26. Menurut dia, suara ledakan terdengar dua kali yang hanya berselang sekitar satu menit antara bunyi ledakan pertama dengan ledakan kedua. "Jarak kami saat itu sekitar 10-15 meter dari pusat ledakan," ujar Kamal. Akibatnya, Kamal mengalami pecah gendang telinga kiri. Selain itu, ia juga menderita luka di wajah, kepala, dan tangan akibat terkena serpihan bom. "Semula kami dirawat di Rs Sanglah, Bali. Pada Minggu (2/10) sekitar pukul 23.00, kami dipindahkan ke RS Husada," jelasnya. Senada dengan Kamal, rekan satu perusahaannya, Ratimin mengatakan saat mendengar ledakan ia hanya bisa berlari menyelamatkan diri. "Waktu itu saya panik, saya berlari di gelapan menyelamatkan diri dalam keadaan luka di sekitar wajah dan kepala," jelasnya. Ratimin mengaku sebelum terjadi ledakan mereka sedang bercanda bersama teman-temannya sebelum santap malam. "Kami saat itu duduk satu meja, tiba-tiba terdengar ledakan. Suasana menjadi kacau, kami pun berlarian," katanya. Ratimin mengaku biaya berobat selama di RS Husada ditanggung perusahannya. Ditanya apa mendapat firasat buruk sebelum terkena musibah, menurut Kamal, rekannya Kojar Wati disela-sela akan makan sesaat sebelum ledakan mengatakan bahwa hari Senin (3/10) ia mau izin tidak masuk kerja. "Setelah itu, saya tidak tahu apa-apa lagi karena terjadi ledakan keras," jelasnya. Sementara, Yohan Sunarto, 50, ayah dari Ely Sunarto, yang menunggui putrinya di rumah duka rumah sakit itu, sering meneteskan air mata. "Terimakasih atas doanya," katanya saat mendapat ucapan duka dari sejumlah wartawan. Rencananya, jenazah Ely dan Megawati akan dimakamkan pada Rabu (5/10) di TPU Pondok Rangon. Sejumlah karangan bunga turut berduka cita terus mengalir dari sejumlah perusahaan dan kerabat korban. |
||
| Terakhir Diperbaharui ( Kamis, 15 Oktober 2009 09:57 ) |


