EPILEPSI

drTYuwono 
 Dr. T. Yuwono, SpS

Hingga kini, Epilepsi masih menjadi “stigma” baik bagi pasien maupun keluarganya. Masih ada saja pertanyaan-pertanyaan mengenai hal tersebut.

Apakah epilepsi ini bisa menular?

Apakah bukan penyakit keturunan?

Untuk pertanyaan terakhir ini memang tidak bisa disalahkan, karena faktor keturunan memang merupakan salah satu penyebab, meskipun hanya 2-4% saja. Dengan kata lain, penyebab”didapat/acquired” jauh lebih banyak daripada faktor keturunan.

Secara umum, kejang dibagi menjadi :

  1. Kejang simptomatik, dimana penyebab kejang demam bukan disebabkan faktor keturunan masih aktif dan perlu segera diobati (tumor otak, infeksi otak, pendarahan otak, hipoglikemia dan sebagainya).
  2. Epilepsi, dimana penyebab kejang bisa bawaan atau “didapat” tetapi proses penyebab kejang tersebut sudah berhenti. Misalnya: kejadian seperti cedera otak selama proses persalinan, paska infeksi otak  

Definisi Epilepsi:

Serangan berulang (paroksismal), yang bersifat sementara dan akan berhenti sendiri (transient), serta berasal dari “cetusan listrik sel otak /neuron discharge”.

Jadi jelas, kejang otot yang bukan berasal dari letupan di otak seperti pada tetanus dan spasmofilia (sindroma hiperventilasi) bukanlah suatu serangan epilepsi. Begitu pula serangan epilepsi tidak harus berupa kejang motorik seperti kejang tonik atau klonik, tetapi tergantung pada focus epileptic di otak, bisa berupa gangguan sensorik , gangguan berbahasa, bahkan gangguan tingkah laku yang aneh. Yang pasti serangan terus harus berulang-ulang(2x atau lebih) dan umumnya mempunyai pola yang sama, tetapi tidak harus disertai dengan penurunan kesadaran.

Gejala Klinik

Manifestasinya macam-macam, tergantung umur, lokasi fokus epileptic dan jenis epilepsi.

Anak-anak: Bila ada kejang tanpa panas, cepat sadar kembali selesai kejang , dan CT Scan otak tak ada kelainan, maka kemungkinan besar mendapat serangan epilepsi. Diagnosa menjadi sulit bila disertai demam, apakah ini suatu kejang demam (febrile convulsion) atau epilepsi?

Pada umumnya bayi/anak dengan kejang disertai demam dicurigai akan menjadi epilepsi bila:

- Umur kurang dari 6 bulan-kejang bersifat fokal (1 sisi tubuh).

- Rekaman otak ada gelombang epileptic.

- Ada deficit neurologis berupa kelumpuhan ½ tubuh selesai kejang (Todd Paralysis).

- Demam yang tidak terlalu tinggi (37-38 derajat Celcius).

Diagnosa menjadi lebih sulit bila manifestasi klinis hanya berupa kaget sesaat berulang-ulang tanpa ada rangsangan suara, bengong dan kedip-kedip (epilepsi petitmal), atau laporan dari guru bahwa anak tersebut sering melempar benda yang sedang dipegang tanpa disadari (epilepsi mioklonik).

Pada anak yang sudah agak besar, adanya gejala sering jatuh (drop attack) perlu diwaspadai, walaupun insidensi epilepsi jenis ini sangat jarang.

Dewasa:Serangan pingsan berulang kadang mendahului suatu serangan epilepsi. Dari penelitian diketahui bahwa sekitar 15% dari kasus serangan pingsan berulang adalah epilepsi. Karena itu, pada kasus pingsan berulang, walaupun tanpa kejang , kita harus berhati-hati. Jangan langsung menganggap suatu serangan adalah sinkope (pingsan). Selidiki secara detail, apa ada saksi yang melihat kemungkinan adanya mata yang melirik keatas, rahang yang mengatup atau kejang tonik sesaat sewaktu pingsan. Adanya tanda-tanda tersebut pada umumnya menunjukkan suatu kemungkinan serangan epilepsi. Lebih lanjut perlu ditanya apa ada keluhan sakit kepala dan tertidur setelah selesai serangan pingsan tersebut untuk memastikan bahwa memang itu suatu serangan epilepsi.

Kadangkala ada serangan yang hanya berupa perubahan tingkah laku seperti pandangan mata yang kosong (menurut keluarga tidak biasa), diikuti gerakan mengecap/mengunyah disertai gerakan seolah-olah ada maksudnya padahal tidak bertujuan. Serangan epilepsi psiko-motor ini bisa berjalan beberapa menit sampai berjam-jam, bahkan berhari-hari. Kadangkala pasien sudah lupa sama sekali kejadian tersebut ketika sadar dan bingung sekali. Nah, bentuk epilepsi ini perlu dibedakan dengan Somnambulism (orang jawa bilang bangkrong) atau gangguan perilaku/psikiatri lainnya.

Pada orang yang sudah tua, adanya serangan epilepsi perlu diwaspadai karena gangguan pembuluh darah atau stroke bagi pasien yang punya faktor resiko penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler).

Psiko-sosial

Dampak Psiko-sosial ini cukup luas, karenanya perlu mendapat perhatian khusus. Mulai dari penerimaan lingkungan terhadap pasien dan keluarganya, rasa rendah diri bagi pasien yang bersangkutan, boleh berenang atau tidak, pendidikan dan larangan-larangan tertentu, perkawinan sampai dengan masalah boleh mendapat SIM (Surat Izin mengemudi) atau tidak, hingga bila si pasien membunuh atau mencederai seseorang, apakah bebas dari hukuman dan sebagainya.

Walaupun saat ini banyak obat epilepsi yang beredar, tetap saja obat yang utama yang dipakai adlah golongan Phenobarbital (luminal), phenitoin, carbamazepine, sodium valproat. Sedangkan obat-obatan yang canggih dan mahal-mahal tetap hanya merupakan second line drugs. Mengenai berapa lama pengobatan diberikan, merupakan seni tersendiri, walau adanya patokan seperti : bila 2 tahun bebas serangan dan untuk dewasa disertai rekaman otak yang normal, maka obat bisa dicoba diturunkan perlahan-lahan. Bila sering mendapat serangan akan semakin banyak sel-sel otak yang rusak, sehingga intelektual dan daya ingat semakin menurun.

Dalam menentukan kasus epilepsi, harus jelas diagnosanya, dalam arti kalau ragu-ragu sebaiknya jangan dianggap sebagai epilepsi dulu, disamping itu kalau baru sekali serangan juga jangan diobati sebagai epilepsi. Akhir-akhir ini dicoba pengobatan dengan operasi yang hasilnya cukup ketat, antara lain bila kejang-kejangnya tidak bisa diatasi dengan obat-obatan yang ada, dan fokus epileptiknya jelas (misalnya: di lobus temporalis).

Di Indonesia seperti halnya diluar negeri sudah pula dilakukan tindakan operasi pada kasus-kasus dengan epilepsi lobus temporalis, dimana pemeriksaan dengan MRI ditemukan adanya sklerosis atau tumor di daerah temporal tersebut.

Jelas bahwa epilepsi bukan merupakan penyakit menular. Bila diagnosa dan penanganan ditangani secara tepat, maka penderitanya dapat hidup normal seperti orang lain.

Untuk Informasi lebih lanjut hubungi :

Bagian pendaftaran RS HUSADA

Graha Utama Lantai-2

Telp : (021) 6260108 Ext 8220-8253

The Best United Kingdom Bookmaker Ladbrokes Promo Code website review