Mengenal Cuci Darah (Hemodialisis)

drIndro 
 dr. Indro Chayadi Saleh

Saat mendengar istilah cuci darah, pasti hampir sebagian pembaca merasa gentar dan takut. Cuci darah atau hemodialisis menjadi sebuah momok negatif dalam masyarakat umum, dikarenakan adanya mitos bahwa cuci darah sama dengan meninggal, bila sudah menjalankan cuci darah maka akan dilakukan seumur hidup dan pasti meninggal. Pendapat ini tidak sepenuhnya benar, karena hemodialisis merupakan tindakan medis yang merupakan alat terapi untuk pasien penyakit ginjal dengan kondisi tertentu. Memang ada pasien yang membutuhkan seumur hidup dilakukan cuci darah namun ada juga yang hanya membutuhkan beberapa kali saja dan pasien akan kembali normal. Peluang perbaikan melalui hemodialisis tergantung dari tingkat keparahan penyakit pasien yang disebabkan karena keterlambatan pengobatan, oleh karena keengganan pasien dan keluarga pasien untuk dilakukan cuci darah segera. Namun harus diingat bahwa dari 1 juta orang dengan penyakit gagal ginjal terdapat 400 orang yang membutuhkan terapi cuci darah/hemodialisis.

Sejarah cuci darah dimulai dari seorang ahli kimia asal Skotlandia bernama Prof Thomas Graham yang pada tahun 1854 menemukan prinsip pemisahan bahan /zat melalui membran semipermeable. Pada tahun 1912 dilakukan hemodialisis pertama kepada hewan dengan menggunakan ginjal buatan (Artificial Kidney) oleh Jhon L Abel, LG Rowntre dan BB Turner dari John Hopkins Medical School. Hemodialisis pertama pada manusia dilakukan oleh George Haas pada tahun 1914 di Jerman. Sedangkan di Indonesia hemodialisis pertama kali dilakukan pada tahun 1972 di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta.

Sebelum membahas lebih lanjut mari kita pahami beberapa pengertian cuci darah. Hemodialisis adalah suatu tindakan membersihkan racun dalam tubuh, karena ginjal tidak mampu lagi membuang sisa-sisa metabolisme dalam tubuh. Hemodialisis dilakukan pada pasien dengan penyakit ginjal kronik dan penyakit ginjal akut dalam kondisi tertentu.

Penyakit ginjal kronik adalah kerusakan ginjal yang dialami selama 3 bulan atau lebih dengan definisi sebagai abnormalitas struktural atau fungsional ginjal. Penyakit ginjal kronik dapat sampai ke tingkat cuci darah secara bertahap namun progresif dan bersifat irreversibel, Jadi bila pasien ini memerlukan cuci darah berarti kerusakan ginjal sudah berlangsung lama dan biasanya memerlukan cuci darah seumur hidup.

Penyakit ginjal akut adalah penurunan fungsi ginjal yang terjadi secara mendadak dimana sebelumnya ginjal dalam keadaan normal dan pada beberapa kasus perlu dilakukan cuci darah. Pasien dengan penyakit ginjal akut bila penyebab penyakit ginjalnya dapat diobati maka fungsi ginjal akan kembali membaik dan tidak memerlukan cuci darah lagi.

Kapan dilakukan cuci darah? Idealnya Cuci darah dilakukan bila fungsi ginjal (Laju Filtrasi Glomerolus/LFG) kurang dari 15 ml/menit. Namun dalam pelaksanaannya ada beberapa pedoman yaitu, LFG kurang dari 10 ml/menit dengan disertai gejala uremia dan malnutrisi. Atau LFG kurang dari 5 ml/menit untuk pasien dengan kerusakan ginjal akibat diabetes (Nefropati Diabetik) walaupun tanpa gejala dapat dilakukan lebih awal untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.

Kondisi-kondisi tertentu yang perlu segera (cito) dilakukan hemodialisis yaitu:

-   Asidosis berat, yaitu kondisi pH darah pasien yang sangat rendah dan tidak dapat

   dikoreksi lagi dengan obat-obatan.

-   Intoksikasi : kondisi keracunan, dilakukan cuci darah untuk membantu menurunkan tingkat

   keparahannya, contohnya keracunan methanol.

-   Uremia: kondisi pasien dengan tingkat sisa metabolisme ureum dalam tubuh sangat tinggi

     dengan gejala klinis: mual muntah, kecegukan yang tidak berhenti,  

     penurunan kesadaran, bahkan kejang - kejang.

-   Elektrolit imbalance. Pada pasien dengan penyakit ginjal terjadi gangguan elektrolit dalam

     tubuh, umumnya yang menjadi masalah adalah kelebihan kalium, menjadi hiperkalemi.

     Kondisi ini bila tidak segera diatasi akan menyebabkan gangguan pada jantung.

-   Overload, terjadi penumpukan cairan di dalam tubuh. Biasanya terjadi penumpukan cairan

     dalam paru-paru yang disebut sebagai Edema Paru, sehingga menyebabkan pasien menjadi

     sesak nafas hebat.

Komponen dalam hemodialisis ada bermacam-macam, seperti Dialyzer (Kidney artificial), blood line, avfistula, cairan bicarbonate, cairan asam. Dari semua komponen ini yang terpenting adalah Dialyzer (Kidney artificial) yang berfungsi sebagai ginjal buatan, didalamnya terjadi proses perpindahan zat-zat beracun dari tubu

 

Untuk Informasi lebih lanjut hubungi :

Bagian pendaftaran RS HUSADA

Graha Utama Lantai-2

Telp : (021) 6260108 Ext 8220-8253

dr. Indro Chayadi Saleh

The Best United Kingdom Bookmaker Ladbrokes Promo Code website review